IRONI PELAYANAN KESEHATAN

IRONI PELAYANAN KESEHATAN
LOMBA MENULIS BLOG FPKR

Rabu, 23 Januari 2013

DENGAN ILMU KU MELANGKAH KE SURGA


DENGAN ILMU KU MELANGKAH KE SURGA
Pada diri seorang muslim, senantiasa terikat dengan aturan Islam, bukan aturan selainnya. Standart yang digunakan adalah halal dan haram. Untuk mengetahui sesuatu tersebut halal ataukah haram membutuhkan ilmu. Menuntut ilmu merupakan kewajiban pada diri muslim.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Menuntut ilmu merupakan kewajiban atas setiap muslim. [HR. Ibnu Majah, no:224, dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani di dalam Shahih Ibni Majah]
Firman Allah SWT dalam surat Mujadalah 11 yang artinya Allah meninggikan derajat orang beriman dan berilmu beberapa derajat.
Kebodohan adalah salah satu sebab utama seseorang terjerumus ke dalam kemaksiatan dan kefasikan, bahkan ke dalam kemusyrikan atau kekafiran. Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Kebaikan anak Adam adalah dengan iman dan amal shalih, dan tidaklah mengeluarkan mereka dari kebaikan, kecuali dua perkara: Pertama: Kebodohan, kebalikan dari ilmu, sehingga orang-orangnya akan menjadi sesat. Kedua: Mengikuti hawa-nafsu dan syahwat, yang keduanya ada di dalam jiwa. Sehingga orang-orang akan mengikuti hawa-nafsu dan dimurkai (oleh Allah)”. (Majmu’ Fatawa 15/242)
Demikian juga orang-orang yang beribadah kepada Allah dengan kebodohan, maka sesungguhnya mereka lebih banyak merusak daripada membangun! Sebagaimana dikatakan oleh sebagian Salafush Shalih: Barangsiapa beribadah kepada Allah dengan kebodohan, dia telah membuat kerusakan lebih banyak daripada membuat kebaikan. (Majmu’ Fatawa 25/281)
KEWAJIBAN MENUNTUT ILMU
Oleh karena bahaya penyakit kebodohan yang begitu besar, maka agama memberikan resep obat untuk menghilangkan penyakit tersebut. Yaitu mewajibkan para pemeluknya untuk menuntut ilmu.
Demikian juga Alloh Ta’ala memerintahkan kepada umat untuk bertanya kepada ulama mereka. Firman Alloh:
Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui. (QS. 21:7)
YANG DIMAKSUD DENGAN ILMU
Yang dimaksudkan ilmu di sini adalah ilmu syar’i, ilmu yang diwahyukan Allah kepada Rasul-Nya, dan diwariskan kepada para ulama pewaris para Nabi.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Barangsiapa meniti satu jalan untuk mencari ilmu, niscaya –dengan hal itu- Allah jalankan dia di atas jalan di antara jalan-jalan surga. Dan sesungguhnya para malaikat membentangkan sayap-sayap mereka karena ridha terhadap thalibul ilmi (pencari ilmu agama). Dan sesungguhnya seorang ‘alim itu dimintakan ampun oleh siapa saja yang ada di langit dan di bumi, dan oleh ikan-ikan di dalam air. Dan sesungguhnya keutamaan seorang ‘alim atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan purnama daripada seluruh bintang-bintang. Dan sesungguhnya para ulama itu pewaris para Nabi. Para Nabi itu tidak mewariskan dinar dan dirham, tetapi mewariskan ilmu. Baramngsiapa yang mengambilnya maka dia telah mengambil bagian yang banyak. [HR. Abu Dawud no:3641, dan ini lafazhnya; Tirmidzi no:3641; Ibnu Majah no: 223; Ahmad 4/196; Darimi no: 1/98. Dihasankan Syeikh Salim Al-Hilali di dalam Bahjatun Nazhirin 2/470, hadits no: 1388]
 Marilah kita perhatikan hadits yang agung ini. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan keutamaan menuntut ilmu pada awal kalimat, dan keutamaan ‘alim (orang yang berilmu) pada pertengahan kalimat, lalu pada akhir kalimat beliau n menjelaskan bahwa ilmu yang dimaksudkan adalah ilmu yang diwariskan para Nabi, yaitu ilmu agama yang haq!
Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata: “Telah diketahui bahwa ilmu yang diwariskan oleh para Nabi adalah ilmu syari’at Allah ‘Azza wa Jalla, bukan lainnya. Sehinga para Nabi tidaklah mewariskan ilmu tekhnologi dan yang berkaitan dengannya kepada manusia.” [Kitabul ilmi, hal: 11, karya Syeikh Al-Utsaimin]
Ini bukan berarti bahwa ilmu dunia itu terlarang atau tidak berfaedah. Bahkan ilmu dunia yang dibutuhkan oleh umat juga perlu dipelajari dengan niat yang baik.
Beliau juga berkata: “Yang kami maksudkan adalah ilmu syar’i, yaitu: ilmu yang yang diturunkan oleh Allah kepada Rasul-Nya, yang berupa penjelasan-penjelasan dan petunjuk. Maka ilmu yang mendapatkan pujian dan sanjungan hanyalah ilmu wahyu, ilmu yang diturunkan oleh Allah”. [Kitabul ilmi, hal: 11, karya Syeikh Al-Utsaimin]
Inilah kewajiban kita, kaum muslimin, baik terpelajar atau awam. Kita wajib mengetahui dan memahami apa-apa yang diperintahkan oleh Allah dan apa-apa yang Dia larang.
KEUTAMAAN MENUNTUT ILMU
Sesungguhnya keutamaan menuntut ilmu sangat banyak, di sini cukuplah kami sebutkan beberapa faedah dari hadits di atas yang telah kami sampaikan:
1.       Allah memudahkan jalan ke sorga bagi orang yang menuntut ilmu.
2.       Malaikat membentangkan sayap-sayap mereka karena ridha terhadap thalibul ilmi.
3.       Seorang ‘alim dimintakan ampun oleh siapa saja yang ada di langit dan di bumi, dan oleh ikan-ikan di dalam air.
4.       Keutamaan seorang ‘alim atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan purnama daripada seluruh bintang-bintang.
5.       Para ulama itu pewaris para Nabi.
Al Ghazzali berkata :
Agama tidak teratur kecuali dengan teraturnya dunia, karena sesungguhnya dunia itu adalah ladang akhirat. Dunia adalah alat yang menyampaikan kepada Allah ‘Azza wa Jalla bagi orang yang mengambilnya (dunia) sebagai alat dan persinggahan, bukan bagi orang yang menjadikannya sebagai tempat menetap dan tanah air.
Semoga Alloh memberikan semangat kepada kita semua untuk menuntut ilmu agama dan mengamalkannya, sehingga meraih kesuksesan di dunia dan akhirat.
Imam Ali lebih memilih ilmu daripada harta
Dengan ilmu kita bisa cari harta, belum tentu dengan harta kita bisa mencari ilmu
Jika  ilmu diberikan kepada orang lain akan semakin mantab, lain halnya dengan harta, makin diberikan kepada orang makin berkurang
Harta kita yang menjaga, tapi ilmu dia menjagamu
Banyak harta makin makin bingung menjaganya, makin banyak ilmu, makin terjaga kepribadian
Ilmu lebih utama daripada Harta ==== KH Zainuddin MZ=========
By: Liya Y (Anna Mujahidah Mumtazah)
UKKI on air 16 januari 2013

HIDAYAH ITU PILIHAN ATAU DOKTRIN??

                     HIDAYAH ITU PILIHAN ATAU DOKTRIN???
Secara syar’i, al-huda atau al-hidâyah adalah mendapat petunjuk atau terbimbing pada Islam dan beriman terhadapnya.
Di dalam al-Quran, kata hadâ dan turunannya dinyatakan sebanyak 316 kali di 96 surat. Dari semua ayat itu bisa disarikan, hidayah yang diberikan oleh Allah kepada manusia di dunia ada tiga macam. 
Pertama: Hidâyah al-Khalq (hidayah penciptaan). Intinya, Allah telah menciptakan dalam diri manusia adanya fitrah berupa gharîzah at-tadayyun (naluri beragama), kebutuhan dan pengakuan kepada al-Khâliq; dan qâbiliyah (kesediaan) untuk cenderung pada kebaikan maupun keburukan (QS al-Balad: 10 “dan kami telah menunjukan kepadanya dua jalan (kebaikan       dan keburukan)”; asy-Syams: 7-8 “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu kefasikan dan ketakwaannya”. Allah juga menciptakan akal atau kemampuan berpikir untuk memahami dan membedakan yang baik dari yang buruk. Orang yang tidak memperoleh hidayah jenis ini, yaitu orang yang tidak sempurna atau tidak waras akalnya, tidak akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah.
Kedua: Hidâyah al-Irsyâd wa al-Bayân (hidayah petunjuk/bimbingan dan penjelasan), yaitu berupa penjelasan, petunjuk dan bimbingan yang diberikan Allah dengan risalah yang dibawa oleh Rasul. Di dalamnya terdapat penjelasan tentang keimanan dan kekufuran, kebaikan dan keburukan, ketaatan dan kemaksiatan, petunjuk akan jalan hidup yang diridhai Allah dan yang tidak, serta akibat dari masing-masingnya baik di dunia maupun diakhirat. Di sinilah al-Quran disebut petunjuk dan Rasul adalah orang yang memberi petunjuk (QS asy-Syura: 52 “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (al-Qur'an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (al-Qur'an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan al-Qur'an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”; ar-Ra’d: 7 “Orang-orang yang kafir berkata: "Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) suatu tanda (kebesaran) dari Tuhannya?" Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan; dan bagi tiap-tiap kaum ada orang yang memberi petunjuk.”; yaitu yang menyampaikan risalah, menjelaskannya dan menuntun serta membimbing ke jalan Allah.
Ketiga: Hidâyah at-Tawfîq (Hidayah Taufik). Tawfîq (taufik) kepada hidayah hanya berasal dari Allah Hidayah taufik inilah yang dinafikan dari Rasul saw. QS al-Qashash: 56 “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.”. Taufik kepada hidayah itu adalah penyiapan sebab-sebab hidayah untuk manusia. Taufik berkaitan dengan sebab-sebab hidayah, atau sifat-sifat hidayah, yang jika seseorang menyifati diri dengannya maka ia akan mendapat petunjuk (hidayah). Allah tidak memberikan taufiknya secara paksa kepada manusia; melainkan ketika manusia sudah menerima hidâyah al-khalq, menggunakan gharîzah tadayun-nya dan menggunakan akalnya; lalu sampai padanya hidâyah al-irsyâd wa al-bayân melalui Rasul, pewaris Rasul, kaum Muslim atau sarana lainnya; kemudian ia memahaminya dan menerima hujah risalah itu, maka Allah akan memberinya taufik dan memudahkannya memahami hidayah dan mengambilnya dan hidup dengannya. Allah SWT berfirman: Orang-orang yang mencari petunjuk, Allah menambah mereka petunjuk dan memberi mereka (balasan) ketakwaannya (QS Muhammad [47]: 17).
Orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami (QS al-‘Ankabut [29]: 69).
Ketika seseorang berusaha mencari dan menjemput hidayah, Allah memberinya taufik sehingga ia mendapat hidayah. Dalam hal ini, Allah SWT tidak memaksa seseorang untuk mendapat hidayah. Allah juga tidak memaksa seseorang untuk sesat. Tidak ada orang yang dari sono-nya ditakdirkan mendapat hidayah atau sebaliknya, tersesat.
Memang ada sejumlah ayat yang menisbatkan hidayah dan kesesatan kepada Allah semata (misal: QS al-An’am [6]: 39, 125; al-A’raf [7]: 43; Yunus [10]: 35; ar-Ra’d [13]: 27; an-Nahl [16]: 93; al-Kahfi [18]: 17; al-Qashash [28]: 56 dan Fathir [35]: 8). Redaksi ayat-ayat ini maknanya jelas bahwa yang melakukan hidayah dan penyesatan adalah Allah, bukan hamba. Ini artinya bahwa seorang hamba tidaklah mendapat petunjuk karena dirinya sendiri melainkan jika Allah menunjukinya, dan sebaliknya jika Allah menyesatkannya, ia tersesat.
Banyak ayat menyatakan bahwa Allah memberikan pahala kepada orang yang mendapat petunjuk dan menjatuhkan siksa kepada orang yang tersesat serta menghisab perbuatan manusia. Apabila pelangsungan hidayah dan kesesatan dinisbatkan kepada Allah, artinya Allah yang memaksa manusia untuk mendapat hidayah atau tersesat, lalu Allah menimpakan siksa kepada orang yang tersesat dan menyiksa orang kafir, fasik, munafik dan pelaku maksiyat. Ini jelas merupakan kezaliman. Mahasuci Allah dari yang demikian, sekali-kali Dia tidaklah menzalimi hamba-Nya (QS 41: 17).
Dengan menghimpun semua ayat jelaslah bahwa Allah sematalah yang menciptakan hidayah dan kesesatan. Sebaliknya, hambalah yang menempuh ihtidâ’ (mencari petunjuk) sehingga ia mendapat hidayah, dan hambalah yang menempuh idhlâl (menempuh kesesatan dan penyesatan) sehingga ia tersesat dan bisa menyesatkan diri dan orang lain.
Seperti itulah kehendak dan keinginan (masyî‘ah wa irâdah) Allah SWT dalam hal ini. Allah SWT berfirman:
Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki (QS an-Nahl [16]: 93)
Maksud ayat ini bukanlah bahwa seseorang mendapat petunjuk karena paksaan dari Allah dan seseorang tersesat karena paksaan dari Allah. Maksudnya bukanlah bahwa Allah memaksa seseorang untuk sesat dan memaksa seseorang untuk mendapat petunjuk. Akan tetapi, maknanya adalah bahwa menurut kehendak dan keinginan (masyî‘ah wa irâdah) Allah, seseorang yang mencari petunjuk akan mendapat petunjuk dan siapa yang menempuh kesesatan akan tersesat. Jadi orang mendapat petunjuk maupun tersesat, semua itu sesuai dengan masyî‘ah wa irâdah Allah itu.
Jadi, Allah telah menciptakan dalam diri manusia qâbiliyah (kesediaan atau kapasitas) untuk kebaikan maupun keburukan. Allah juga telah menjelaskan jalan kebaikan atau jalan hidayah maupun jalan keburukan atau jalan kesesatan (QS asy-Syams: 8; al-Balad: 10). Lalu Allah membebaskan manusia untuk memilih jalan hidayah atau jalan kesesatan itu (QS al-Kahfi: 29 “Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir". Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.”). Jika orang mencari dan menjemput hidayah, yaitu mengupayakan sifat-sifat hidayah ada dalam dirinya atau memilih jalan hidayah, maka Allah memberinya taufik sehingga ia mendapat hidayah dan Allah menambah hidayah kepadanya. Sebaliknya, jika orang mencari dan menjemput kesesatan atau memilih jalan kesesatan maka ia akan tersesat, Allah tidak memberinya taufik, bahkan Allah akan menambah kesesatannya.
(QS Al-Qashash [28]: 56).Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. ( Anna Mujahidah Mumtazah sumber al waie  karya ust Yahya A) 
 Kajian UKKI IKIP PGRI Bojonegoro 23 Januari 2013


Selasa, 01 Januari 2013

Upaya Barat Membendung Khilafah

Upaya Barat Membendung Khilafah

Perjuangan penegakan syariah dan Khilafah Islamiyah kian membahana. Opini syariah dan Khilafah mampu menembus tak hanya wilayah perkotaan, namun juga pedesaan. Dukungan dari masyarakat semakin pesat. Hal ini mengakibatkan para musuh Islam ideologis kebakaran jenggot. Berbagai upaya telah dilakukan untuk membendung kesatuan umat ini. Mereka rela menanggalkan tidurnya untuk mengahalangi umat Islam dari kejayaannya. Pemetaan kaum Muslim menjadi Muslim radikal (garis keras) dan Islam liberal. Kelompok radikal (garis keras) adalah kaum Muslim yang memperjuangkan syariah Islam. Kelompok Liberal adalah kaum Muslim yang menggemborkan ide kebebasan, baik berpendapat, beragama, berperilaku. Kelompok ini cenderung setia pada thaghut, menggunakan hukum manusia, mengabaikan hukum sang Khalik.

Muncul pula istilah Islam fundamentalis vs moderat, Islam struktural vs kultural, Islam formalis vs substansialis, Islam radikal, Islam teroris dan istilah lain yang memecah-belah umat Islam. Kelompok Islam yang mendukung ide Barat seperti demokrasi, HAM, pluralisme disebut moderat. Yang menolak, mereka sebut radikal atau fundamentalis. Yang ingin menegakkan syariah Islam secara menyeluruh lewat negara disebut formalis. Yang menolak syariah Islam karena hanya menerima ide-ide moralitasnya saja disebut substansialis. Demikian adanya pemetaan ini, harapannya adalah agar opini buruk perjuangan syariah Islam merasuk ke pemikiran masyarakat.

Upaya mereka untuk mengadu domba umat adalah dengan pencitraan buruk dengan isu terorisme. Selain menjadi pengalihan isu berita kezaliman para penguasa, terbukti isu terorisme mampu mencitrakan buruk bagi pejuang Islam kaffah. Tidak sedikit yang menjadi korban dari adanya isu ini yang tidak lain adalah umat Islam sendiri. Dengan baju Densus 88, mereka dengan bebasnya menghabisi nyawa para pejuang agama Allah. Target operasi mereka adalah pejuang Islam kaffah. Meski tanpa ada bukti yang jelas, antek-antek Densus 88 langsung tembak dor di tempat kepada para korban yang diduga teroris meski tanpa pengkajian lebih lanjut. Dari sini diharapkan masyarakat akan semakin takut untuk mempelajari Islam, jika kaum muslim sendiri enggan mempelajari Islamnya, maka dengan mudah musuh melakukan intervensi dan semakin mudah untuk mencegah berdirinya negara Khilafah yang menerapkan syariah Islam.

Selain itu paham nasionalisme menjadi racun bagi kekuatan kaum muslim. Betapa tidak, umat menjadi terkotak-kotak dengan batas negara. Ikatan yang dibangun bukan berlandaskan akidah Islam, namun ikatan kebangsaan. Padahal Rasulullah saw. pernah bersabda yang diriwayatkan oleh Nu’man bin Basyir yang artinya, “Perumpamaan orang-orang Mukmin dalam berkasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam”. (HR. Muslim). WalLahu a’lam bi ash-shawab. [Anna Mujahidah Mumtazah; Guru dan Alumni Pendidikan Kimia UNESA Bojonegoro Jatim]
 Dimuat di http://hizbut-tahrir.or.id/2012/12/30/upaya-barat-membendung-khilafah/

Minggu, 23 Desember 2012


DISKUSI TERBATAS DPD II MHTI BOJONEGORO
Tepatnya tanggal 25 November diperingati sebagai hari guru nasional. Guru merupakan pahlawan tanda jasa. Sebuah kalimat yang sering kita dengar sejak SD hingga sekarang. Guru yang berkewajiban untuk mendidik peserta didik, kini dengan adanya sertifikasi kewajiban tersebut seakan menjadi nomor kesekian. Sertifikasi menjadikan guru sibuk dengan tugas-tugas seperti portofolio, jam ngajar minimal 24 jam setiap pekan.
Guru berperan besar dalam mendidik generasi masa kini, namun guru di zaman kapitalisme di tuntut lebih (jam mengajar dan perangkat yang lengkap) dengan iming-iming gaji sertifikasi yang menggiurkan, namun pada faktanya di lapangan dengan sertifikasi menjadikan banyaknya jam kosong di kelas peserta didik (guru sibuk dengan uji kompetensi). Hasilnya peserta didik semakin kurang mendapatkan ilmu. Hal ini digambarkan dalam sebuah teatrikal dari tim kampus dalam acara Diskusi terbatas “Peran Guru dalam Menyelamatkan Generasi untuk Bangsa”. Digambarkan pula kenakalan remaja seperti pacaran, tawuran dan lainnya disebabkan adanya paham sekulerisme yang bercokol di tengah kehidupan.
Acara Diskusi terbatas 18 November di Aula SMKN2 Bojonegoro diadakan oleh MHTI DPD II Bojonegoro dimulai sekitar pukul 08.50 hingga 11.30 tampak hangat dengan penampilan teatrikal dan pemutaran video remaja masa kini. Peserta sekitar 50 orang dari para guru berbagai jenjang dengan menghadirkan pembicara Dosen Universitas Ronggolawe Tuban yakni ustadzah Mu’jizatin Fadiana, S.Si, M.Pd dan DPD II MHTI Bojonegoro yang juga guru di sebuah sekolah MTsN di Bojonegoro, Ustadzah Khoirin Nisa’. Pembicara pertama memaparkan tentang “Peradaban Islam Mencetak Generasi Berkualitas”. Terbukti lahirnya ahli matematika Al Khawarizmi sang penemu angka nol, Ibnu Sina yg dikenal dengan nama lain (Avecina) ahli dalam bidang kedokteran. Mereka semua adalah cendikiawan muslim. Pada masa Khilafah Islam abad 10 M. Seorang ulama Yaqut ar Rumi memuji para pengawas perpustakaan di kota Mer Khurasa karena mengizinkan peminjaman sebanyak 200 buku tanpa jaminan apapun per-orang. Para khalifah  memberikan penghargaan sangat besar  terhadap para penulis buku, yaitu memberikan imbalan emas seberat buku yang ditulisnya. Subhanallah..
Pembicara kedua menyampaikan fakta sekulerisme diantaranya adalah Al quran cukup di masjid, jangan dibawa di luar masjid misalnya untuk urusan keduniaan., Guru merupakan profesi yang mulia. Maka guru harus mampu mengembalikan kesadaran generasi   sebagai hamba Allah SWT, menjadi teladan dalam berpikir dan berbuat berlandaskan aqidah Islam, menyadarkan generasi bahwa untuk menjadi negara yang mandiri-kuat-besar dan terdepan , kembali kepada syariah Islam
Beliau mengutip sebuah hadist "Allah memberikan petunjuk kepada seseorang melalui tanganmu (maka hal itu) lebih baik bagimu dibanding sebaik-baik kenikmatan". Dalam riwayat lain: "Lebih baik bagimu dari pada apa yang disinari oleh matahari (bumi seisinya)".
Seorang guru memberikan testimony, beliau adalah ibu Endang, guru di sebuah SMP menyampaikan bahwa dari hasil survey yang beliau lakukan kepada anak didiknya, rata-rata mereka meninggalkan sholat lima waktu. Sehari hanya sholat 1 atau 2 waktu, yakni Dhuhur saja (di sekolah) atau magrib (saat ngaji di mushola terdekat dengan rumah). Sungguh ironis sekali generasi masa kini.  Dengan adanya sertifikasi waktu yang dimiliki guru untuk mendidik peserta didik menjadi berkurang, hasilnya guru hanya sekedar mengajar sesuai tuntutan kurikulum yang berorientasi nilai saja. (AMM)



Jumat, 21 Desember 2012

TIPS JITU MANFAATKAN FB


TIPS JITU MANFAATKN FB

Sobat, ni ad seikit catatan yg mungkin bias menjadi pengingat para facebooker. Tips2 manfaatin FB, diantaranya:

1.       Berteman dg para pecinta Ilmu, para pecinta dakwah

Dg berteman pecinta ilmu n pecinta dkwah, mk qt akan kecipratan dg ilmu n semangat mereka, yang InsyaAllah setiap updatestus mrk berisi nasihat, semangat n energy positif lainnya. Krn apa yang kita baca akan mempengaruhi kepribadian kita. Ingat pesan Rasulullah “Perumpamaan teman yang shalih dengan yang buruk itu seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Berteman dengan penjual minyak wangi akan membuatmu harum karena kamubisa membeli minyak wangi darinya atau sekurang-kurangnya mencium ban wanginya. Sementara berteman dengan pandai besi akan membakar badan dan bajumu atau kamu hanya akan mendapatkan bau tidak sedap“. (HR.Bukhari & Muslim).

Mari kita simak nasihat Qatadah: “Demi Allah, aku belum pernah melihat seseorang berteman dengan seseorang melainkan ia akan menyerupainya. Maka bertemanlah dengan hamba-hamba Allah yang shalih, agar kamu di golongkan dengan mereka atau menjadi seperti mereka“. Bertemanlah dengan “penjual parfum”.

2.       Jadikn setiap updatestus kita berbobot dlm pandangn Islam n ada kontribusi ilmu, dakwah n semangat yg berakhir pd pahala yg kan qt terima untk asset k dpn

Dari Abi Hurairah RA bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda,

 “Barangsiapa yang menyeru kepada suatu petunjuk maka dia akan  mendapat pahala sama seperti orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi  pahala yang mereka dapatkan sedikitpun”.

3.       Menghindari updatestus yg GJ

Sungguh disayangkan jika updatestus yg ditampilkn adalah yg GJ (gak jelas) spt curhat yang tak berisi solusi, kata2 yg tiada manfaat. Sangat disayangkan sekali. Perlu diingat yang bs mmbaca updatestus d dunia maya ini adalah semua org. Bayangkn jk untk membaca updatestus butuh waktu setengah menit, sementara yg membaca adalah 1000 orang. maka telah mengkorupsi wktu org tsb n jk d kalkulasi adalah 500 menit. Kasihan teman yg baca kan?????


Minggu, 09 Oktober 2011

MENGAPA MEMILIH ISLAM???????


MENGAPA MEMILIH ISLAM??
Mengapa kita muslim? Apakah karena ortu kita? Apakah jika ortu kita non muslim kita juga non muslim? Agama yang manakah yang benar? Pertanyaan2 ini mungkin sering terlintas dalam pikiran kita. Sudah bisakah kita menjawabnya? Mungkin ini ada beberapa hal yang bisa kita gunakan untuk menjawab pertanyaan2 tsb. Setiap manusia mempunyai kecenderungan untuk mengkultuskan sesuatu. Dengan akalnya manusia diajak berfikir untuk menemukan siapa Tuhannya. Namun dengan akal saja manusia tidak akan sanggup menemukan kebenaran siapa Tuhannya. Sehingga manusia harus menggunakan dalil naqli.(dalil yang bersumber dari Tuhan). Mengenai agama, agama apakah yang benar? Maka bisa dilihat firman Allah yang artinya “sesungguhnya agama Diridhai Allah SWT hanyalah Islam. Jadi setelah turunnya agama Islam, maka agama lain tidak diridhai Alla SWT.
Lalu bagaiman dengan keislaman kita? Dari ortu or memang pilihan kita? Ketika manusia dilahirkan, manusia mengalami masa-masa kecil, akal belum mampu membedakan mana yang baik mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah. Sehingga bisa dikatakan ketika manusia masih kecil atau belum baligh maka agama yang dianutnya adalah agama orangtuanya. Akan tetapi ketika manusia sudah baligh maka dia menggunakan akalnya untuk berfikir siapa saya? Ketika dia tahu bahwa dia makhluk maka dia akan mencari siapa tuhannya. Dengan menggunakan akalnya melalui proses berfikir dan dalil naqli maka manusia akan menemukan Tuhannya dan agama mana yang benar.
Mengenai keimanan, kita dilarang karena mengikuti kakek nenek kita tanpa pengetahuan sedikitpun dan keimanan kita harus 100%, tidalk boleh tidak. Jangan sampai seperti orang dahulu yang mengikuti agama kakek nenek moyang mereka, sementara kakek nenek moyang mereka tidak memiliki pengetahuan sedikitpun mengenai Tuhan mereka. 
Sebagaimana yang difirmankan Allah Subhannahu wa Ta'ala: "Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah" mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) ne­nek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?" (Al-Baqarah: 170)

MENILIK KEMBALI PENDIDIKAN DI INDONESIA
Pendidikan merupakan kebutuhan primer sebagaimana kebutuhan makan, minum, tempat tinggal. Tanpa ilmu manusia bagai berjalan dalam kegelapan. Dalam kegelapan manusia tidak mampu melihat apa yang ada di depannya, begitu juga ilmu, jika manusia hidup tanpa memiliki ilmu, maka ia akan kesulitan dalam menghadapi hidup. Bisa jadi solusi yang digunakan untuk mengatasi permasalahan tidak tepat. Berbagai problem masyarakat kita terkait pendidikan, diantaranya banyak manusia yang berilmu akan tetapi ilmu hanya sebatas pengetahuan bukan dijadikan pemahaman. Dia mengetahui sesuatu itu buruk dan dilarang, akan tetapi dia melanggar atuaran itu sendiri.
Problem kedua, banyak di antara masyarakat yang putus sekolah dan hanya sampai SD atau SMP dalam menuntut ilmu. Hal ini dikarenakan mahalnya biaya untuk mengenyang pendidikan SMA hingga PT. Seolah orang miskin dilarang sekolah.
Lalu bagaimana solusi Islam terhadap problem pendidikan saat ini?
Dalam Islam menuntut ilmu hukumnya wajib. Fardhu ain untuk ilmu agama, artinya setiap manusia diwajibkan untuk menuntut ilmu. Fardhu kifayah untuk ilmu umum seperti halnya, matematika, biologi, ekonomi. Artinya bila suatu daerah/kelompok sudah mempelajari ilmu tersebut, maka gugurlah kewajiban muslim lainnya.
Rasul SAW bersabda yang artinya “Carilah ilmu dari ayunan sampai ke liang lahat”. Menuntut ilmu tak hanya dari SD-PT akan tetapi hingga maut menjemput. Dalam hal ini Negara wajib membantu rakyatnya untuk menuntut ilmu. Sehingga biaya tidak dibebankan kepada rakyat.
Tujuan pendidikan dalam Islam adalah untuk membentuk manusia untuk bersyaksiyah islamiyah (berkepribadian Islam) bukan hanya cerdas intelektual saja akan tetapi menjadi manusia yang senantiasa menjadikan ilmunya untuk kemaslahatan umat. Sehingga tidak ada lagi orang berilmu yang melakukan pelanggaran terhadap hukum-hukum  Allah seperti korupsi, mengakali kaum lemah dan lainnya. Akan tetapi yang didapatkan adalah ahli ilmu yang benar-benar memberi manfaat. Ilmu harus disebarkan. Sebagaimana zaman dahulu Rasulullah meminta para tahanan untuk mengajarkan ilmu kepada yang lain, sehingga para tahanan dikeluarkan setelah mengajarkan ilmu kepada beberapa orang. Begitulah Islam mengagungkan ilmu. Sebagai seorang pelajar/mahasiswa marilah kita cari ilmu sebanyak-banyaknya. Ilmu tak hanya dari kampus saja akan tetapi bisa kita dapatkan melalui seminar, kajian ilmiah, kajian Islam, training dan berbagai acara majelis ilmu lainnya. Dan jangan lupa ilmu disini naksudnya adalah ilmu yang memberi manfaat bukan ilmu untuk menghancurkan umat.