Sabtu, 24 Agustus 2013
Selasa, 20 Agustus 2013
JANGAN BERPUTUS ASA UJIAN YANG KITA ALAMI BELUMLAH SEBERAPA
PENAWAR HATI YANG TERLUKA
PENAMBAH SEMANGAT DI KALA PUTUS HARAPAN
SEMOGA BERMANFAAT
Karena beratnya situasi beberapa hari belakangan, sebagian kawan ada
yang mengalami "ihbathun nafs" (down kejiwaan). Untuk itu kita perlu
saling menguatkan dan saling mengingatkan. Semoga bisikan-bisikan syetan
tidak sampai menggoncang keimanan kita.
Di antara bentuk pertanyaan yang dikirimkan ke-inbox saya bunyinya begini:
Semoga Antum dan keluarga senantiasa dalam lindungan dan rahmat Allah Swt.
Jujur saya tidak sanggup lagi mencerna dengan nalar apa rencana
Allah terhadap Mesir. Mereka yang gugur, telah sampai pada pengorbanan
tertinggi. Semua jenis ujian telah mereka lalui. Difitnah, diteror,
dilecehkan, dilukai dan puncaknya : dibunuh. Saya kira semua pengorbanan
untuk membuktikan perjuangan demi agama ini telah mereka persembahkan.
Saya kira tidak ada pengorbanan yang lebih tinggi dari kematian. Nah
inilah yang membuat saya bertanya-tanya. Apakah kemenangan dan
pertolongan yang dijanjikan itu benar sudah dekat? Karena apa yang
terjadi mengisyaratkan yang sebaliknya. Harapan hampir putus. Doa seakan
tak tembus ke hadirat-Nya. Mohon pencerahan Antum.
Ungkapan perasaan ini bisa kita tanggapi dengan beberapa hal yang semoga bisa menaikkan ma'ani/ruhiyah kita:
1. Jangan sampai kondisi ini membuat kita putus asa sehingga
berburuk sangka kepada Allah. Apapun yang terjadi, itu semua atas
kehendak dan hikmah yang hanya Allah yang mengetahuinya. Dia akan
bukakan rahasia apa di balik itu asalkan kita sabar melalui dan
menunggunya sambil terus beramal.
2. Kita harus selalu
menyadari bahwa hidup di dunia ini hanya untuk diuji, tidak ada selain
itu. Sekalipun kemenangan dan kejayaan diberikan Allah kepada umat ini
pada saat ini juga, apakah ujian dunia akan berhenti? Tidak, bahkan
ujian dengan kelapangan hidup jauh lebih berat dari pada ujian dengan
kesusahan, karena ia melenakan.
3. Kita ingat selalu bahwa
inilah sunah dalam berdakwah. Inilah nasip yang harus dirasakan oleh
para da'i yang ingin menegakkan kalimat "lailaha illallah" pada setiap
lini kehidupan. Bukan hanya di mesjid, akad pernikahan dan kematian
serta tempat talaqqi saja. Tapi mencakup segala aktifitas hidup dari
mulai bangun tidur sampai tidur kembali. Dari adab buang air dan
menggauli istri sampai mengatur negara dan bangsa. Kalau ingin berdakwah
dengan aman tanpa gangguan, sampaikanlah sesuai dengan selera
masyarakat, niscaya kamu tidak akan pernah diganggu.
4.
Perlu kita sadari lagi bahwa apa yang kita rasakan pada hari ini
belumlah seperti yang dirasakan oleh Rasulullah dan para anbiya', serta
orang-orang sebelum kita.
Rasulullah dengan para shahabat
sampai makan daun kayu selama pemboikotan yang berlangsung 3 tahun di
Syi'ib Bani Hasyim. Sampai terluka parah di perang Uhud dan 70 shahabat
syahid. Di perang Khandak jantung para shahabat bagaikan naik sampai
ketenggorokan saking dahsyatnya ancaman kengerian dari musuh. Untuk
sekedar buang air besar saja susah. Berpuluh kali berpindah dari satu
perperangan ke perperangan lain.
Nabi-nabi sebelum beliau
tidak seorangpun yang luput dari caci maki, hinaan, fitnahan, kejahatan
dan pengusiran kaumnya. Bahkan ribuan Anbiya Bani Israil yang mati
terbunuh. Nabi Nuh 950 tahun harus bersabar baru datang pertolongan
Allah.
Orang-orang dulu berbagai macam model penyiksaan
mereka rasakan. Ada yang tubuhnya dibelah dua dengan gergaji, ada yang
disisir dagingnya dengan sisir besi, dibakar hidup-hidup dan direbus
dengan air mendidih atau digoreng dengan minyak panas.
Semua itu tidak menjadikan mereka berputus asa terhadap pertolongan
Allah. Tidak menggoyahkan keyakinan mereka. Tidak memalingkan mereka
dari kebenaran. Bahkan tidak menciutkan nyali mereka untuk menyuarakan
al haq.
Alhamdulillah, yang kita rasakan sekarang belumlah
sampai sedahsyat itu, semoga jangan sampai. Masih bisa tidur nyenyak di
atas kasur empuk, makan enak dengan menu serba lezat, buang air dengan
penuh kenyamanan, bahkan setiap hari masih sempat berhibur dan bersenda
gurau.
5. Do'a kita pasti diijabah oleh Allah, cuma pada
waktu yang dikehendaki Allah sesuai hikmah yang Dia ketahui. Bukan pada
waktu yang kita inginkan karena kita tidak tahu rahasia di balik itu.
Teruslah berdo'a, suatu saat pasti dikabulkan Allah. Dan jangan
terpengaruh dengan ejekan kalau Allah tidak mengacuhkan do'a kita.
6. Apakah pertolongan itu betul-betul sudah dekat atau hanya
sekedar hiburan? Tidak, pertolongan Allah betul-betul dekat, bahkan
sudah turun sebagiannya. Kita saja yang tidak menyadari.
Nanti kita bahas bentuk pertolongan Allah itu secara khusus.
(Bersambung)
----Sumber: status ust Zulfi Akmal----
"BELAJAR DARI SYAIKH SAYYID QUTHB"
BELAJAR DARI SYAIKH SAYYID QUTHB
Peristiwa
terakhir dalam kehidupan Sayyid Quthb di pengadilan sebelum beliau
menemui kesyahidan di tiang gantungan. Pendirian yang sangat luar biasa.
Sangat mengesankan:- Seorang polisi mendatangi beliau di tengah-tengah persidangan, lalu ia bertanya:
Ya Syaikh! Apa makna dari kalimat "syahid"?
Beliau menjawab tanpa ragu: Syahid maknanya seseorang bersaksi bahwa syari'at Allah lebih mahal baginya dari pada nyawanya.
Setelah selesai persidangan salah seorang anggota Ikhwanul Muslimin berkata kepada beliau: "Kenapa engkau berkata begitu terus terang di pengadilan yang punya kuasa terhadap lehermu"?
Beliau menjawab: Karena bersilat lidah tidak boleh dalam masalah aqidah, dan seorang pimpinan tidak boleh mengambil "rukhshah" (kemudahan)
Setelah itu Jamal Abdul Nasher betul-betul menjatuhkan hukuman mati buat beliau.
Tatkala beliau mendengar itu ia berkata:
"Alhamdulillah, aku sudah berbuat selama 15 tahun demi memperoleh syahadah".
Selanjutnya intel perang berusaha menggoyahkan prinsipnya dengan berbagai cara, namun mereka semua bagaikan berhadapan dengan gunung batu yang tak tergoyahkan.
Mereka mengajukan tawaran sebagai imbalan untuk membebaskan beliau dari hukuman, dengan tegas beliau menjawab:
"Orang semacam aku akan mengajukan keberatan beramal bersama Allah?"
Kemudian mereka menawarkan untuk menuliskan kalimat untuk minta dikasihani oleh Jamal Abdul Nasher.
Lagi-lagi ia mengatakan kalimat yang ditulis oleh tinta emas sejarah:
"Sesungguhnya telunjuk yang bersaksi bahwa Allah itu Esa 5 kali sehari semalam menolak untuk menuliskan huruf yang mengakui pemerintahan tughat (kejam).
Kenapa aku harus minta belas kasihan ???
Jika aku dipenjarakan karena kebenaran, maka aku rela menerima hukum yang benar....
dan jika aku dipenjarakan karena kebatilan, aku lebih mulia dari pada mengemis kasih kepada kebatilan".
Beberapa saat sebelum hukuman gantung dilaksanakan beliau didatangi oleh seorang polisi meminta beliau menuliskan pesan kepada Jamal Abdul Nasher, wartawan dan kantor pemberitaan yang hanya satu kalimat supaya ia dibebaskan.
Bunyi kalimatnya seperti ini: "Aku sudah bersalah dan aku minta maaf".
Beliau tersenyum dan berkata dengan ketenangan yang luar biasa: "Tidak akan pernah, sekali-kali aku tidak akan membeli kehidupan yang hina ini dengan kedustaan yang tidak akan abadi".
Polisi itu berkata kepada beliau: "Tapi ini permasalahannya kematian wahai Sayyid".
Beliau menjawab: "Selamat datang wahai kematian di jalan Allah. Lakukan lah apa saja yang kalian inginkan".
Setelah beliau melaksanakan shalat subuh, beliau digiring ke tiang gantungan untuk pelaksanaan eksekusi mati...
Tiba-tiba datang salah seorang syekh dari al Azhar mengajari beliau mengucapkan dua kalimat syahadat.
Ia berkata: Ucapkanlah bersamaku wahai Sayyid......
Beliau langsung memotong perkataan syekh itu.....
"Sungguh malang kamu...Sampai-sampai orang sepertimu ikut juga meramaikan sandiwara ini.
Aku digiring ke tiang gantungan untuk menemui kematian demi menegakkan kalimat "Lailaha illallah", sementara kamu datang untuk mencari sampah-sampah makanan dengan kalimat "Lailaha illallah".
Kemudian beliau tersenyum sambil mengulang-ulang dua kalimat syahadat.
Selanjutnya Malaikat mengantar ruhnya ke langit penuh kemuliaan, insyaallah.
Semoga rahmat Allah selalu meliputi beliau dengan di alam keabadian.
Hasil copas
Minggu, 11 Agustus 2013
Ghozwul Fikr Tanpa Disadari Kebanyakan Kaum Muslim
- Konon
kabarnya seorang petani di sebuah desa di India ingin menjual kambing hasil
ternaknya ke pasar. Baru berjalan beberapa langkah dari rumah ada orang
yang menghadangnya. Orang itu berkata: "Berapa harga anjing anda ini?
Dengan penuh keheranan petani itu menjawab: Ini bukan anjing, tapi kambing.
Penawar: Bukan, ini anjing. Biar saya beli.
Tanpa menjawab lagi petani itu berlalu menuju pasar dan meninggalkan orang yang menawar dagangannya begitu saja.
Setelah agak jauh berjalan, tiba-tiba ia dihadang lagi oleh seseorang dan langsung berkata: "Anda mau menjual anjing ini? Biar saya yang beli. Berapa anda mau jual?"
Dengan sangat marah petani itu menjawab: Hai orang gila, ini kambing. Bukan anjing !!! Bentaknya.
Penawar kedua: Saya bukan gila. Benar ini anjing. Anda saja yang salah lihat dan salah paham. Biar saya yang beli anjing ini. Berapa harganya?
Dengan perasaan sangat dongkol petani itu kembali berlalu meninggalkan orang yang dia anggap gila, karena mengatakan kambing yang ia bawa itu anjing.
Tidak lama ia sampai di pasar dan langsung menuju stan khusus penjualan hewan.
Baru saja ia masuk pasar, orang-orang langsung mengerumininya, rebutan menawar hewan yang ia bawa. Cuma sialnya, kali ini tidak ada bedanya dengan tawaran sebelumnya. Mereka semuanya serempak menanya: "Berapa harga anjing yang ia bawa?"
Karena semua orang mengatakan bahwa hewan yang ia bawa itu adalah anjing, tanpa fikir panjang ia berlalu dengan perasaan dongkol sekali dan meninggalkan kambingnya begitu saja sambil berkata: "Ambillah binatang ini sesuka kalian, aku tidak butuh!!!".
Cerita ini hanyalah khayalan, pasti tidak pernah terjadi. Akan tetapi kondisi seperti ini, tanpa kita sadari sering terjadi di dalam kehidupan kita. Dengan tujuan dan kepentingan tertentu orang bisa saja mempermainkan defenisi dan istilah yang sudah baku di tengah masyarakat dengan makna yang sesuai dengan keinginan serta selera mereka.
Awalnya orang banyak akan heran dengan istilah/defenisi itu, tapi setelah diulang-ulang menjadi kebiasaan, bahkan berubahlah istilah yang asing lagi aneh itu menjadi istilah yang baku di tengah-tengah masyarakat banyak.
Padahal kalau si petani yakin dengan apa yang ia bawa, dan tidak terganggu dengan permainan kata-kata orang, ia akan memegang kambingnya dan akan tetap mencari pembeli yang mempunyai otak masih bersih.
Bukankah otak kita ikut membenarkan bahwa orang yang kuat menjalankan ajaran Islam disebut sebagai "teroris"? Orang seperti itu akan dicurigai, dimata-matai, dan dikucilkan dalam pergaulan. Mereka adalah orang yang ekstrim bin fundamental. Jangankan orang awam, ulama yang faham agama pun kadang-kadang ikut-ikutan membenarkan istilah ini.
Dan banyak permainan dan pemutar balikkan fakta yang sudah menjadi lumrah bagi kita tanpa disadari.
Pacaran yang sebenarnya perzinaan, justru dianggap hal biasa, bahkan dianggap pergaulan modern. Padahal sepantasnya dipandang sebagai kehidupan hewan. Sebaliknya, orang yang anti pacaran dianggap sebagai manusia aneh yang primitif bin kolot.
Tanpa disadari, mulai dari orang paling awam sampai paling cerdaspun tidak sadar kalau mereka sudah terkena penyakit ghazwul fikri ini.
Mari kita periksa dan benarkan lagi cara fikir yang sudah error ini...!!! Apakah selama ini kita sudah ikutan error atau masih sehat wal afiat.
Semoga Allah menjaga otak kita dari ke-error-an. - ket: hasil copas
Minggu, 14 Juli 2013
INSPIRASI MUHAMMAD AL FATIH
INSPIRASI MUHAMMAD AL FATIH
Muhammad Al Fatih merupakan pemuda yang mampu mewujudkan salah satu
bisyaroh nubuwah. Kisah perjuangannya mampu menjadi inspirasi bagi para
pejuang tegaknya syariat Islam dan khilafah dalam mewujudkan janji Allah
dan bisyaroh nubuwah. Ada beberapa ibroh yang bisa kita ambil dari
kisah selama hidupnya.
Mental al Fatih sejak kecil
Sejak kecil
pada diri al Fatih sudah ditanamkan jiwa pemimpin terbaik, penakluk
Konstantinopel, anak yang kelak akan mewujudkan sebuah bisayroh nubuwah.
Syaikh Aaq Syamsudin, secara istiqomah mengajarkan dan mengulang-ulang
bisyaroh nubuwah, kisah jihad dan futuhat para shahabat dan pendahulu al
Fatih yang ingin menaklukkan Konstantinopel, serta yang terpenting
adalah ketaatan totalitas pada Sang Kholiq. Sejarah telah mencatat,
bahwa semenjak baligh hingga akhir hidupnya al Fatih tidak pernah
meninggalkan shalat rowatib dan sholat tahajud, selama hidupnya ia
menjadikan syariat selalu didepan matanya dan berusaha jangan sampai
melanggar syariat yang Islam mulia ini.
Al Fatih juga manusia, sama
seperti kita yang juga berjuang dan berdakwah demi tegaknya izzul Islam
wal muslimin. Hanya mungkin kalau kita mau bertanya pada diri kita,
sudah sejauh mana upaya kita untuk dapat mewujudkan bisyaroh nubuwah
tegaknya kembali Daulah Khilafah ‘Alaa Minhajin Nubuwah. Jika hanya
untuk menaklukkan “sebuah kota” al Fatih sudah melakukan persiapan sejak
dini dengan bermacam aktivitas untuk mengasah kemampuannya dan amal
ibadah untuk selalu dekat dengan Allah, Bagaimana dengan kita yang
memiliki cita-cita untuk menegakkan kembali Daulah Khilafah ‘Alaa
Minhajin Nubuwah?
Pemuda yang berani menasehati pemimpin
Pada
saat usianya masih belia, al Fatih sudah mendapatkan amanah untuk
memimpin ibu kota Negara Khilafah menggantikan ayahnya Sulthan Murad II
yang pergi beruzlah untuk bertaqorub kepada Allah. Ia laksanakan amanah
itu dengan penuh tanggung jawab. Pada saat melaksanakan amanah ini, al
Fatih mendapatkan serangan dari Pasukan Salib di Varna-Bulgaria.
Terdesak karena masih minimnya jam terbang dalam menjalankan
pemerintahan, kemudian ia meminta ayahnya untuk turun membantunya, namun
ayahnya selalu menolaknya. Beberapa kali ia mengirim surat kepada
ayahnya, namun bantuan yang diharapkan tak kunjung datang. Akhirnya,
al-Fatih menulis surat kepada ayahnya yang isinya
Siapakah yang saat ini menjadi sulthan Saya atau ayah?
Kalau ayahanda yang menjadi sulthan, maka seharusnya seorang pemimpin berada di tengah rakyatnya dalam situasi seperti ini
Kalau Saya yang menjadi sulthan, maka sebagai pemimpin, saya
perintahkan ayahanda sekarang juga untuk datang kemari ikut memimpin
pasukan membela rakyat.
Jiwa pemberani untuk mengkoreksi pemimpin
seperti yang pernah dilakukan al Fatih perlu untuk kita adopsi, apalagi
di saat para pemimpin di negeri ini tidak menerapkan Syariat Islam,
sering mendzolimi umat dan banyak yang bermaksiat kepada Allah. Bukankah
Rasulullah saw pernah bersabda :
سَيِّدُ الشُّهَدَاءِ حَمْزَةُ بن عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَرَجُلٌ قَامَ إِلَى إِمَامٍ جَائِرٍ ، فَنَهَاهُ وَأَمَرَهُ ، فقتلُه
“Pemimpin para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthalib, dan seseorang
yang berdiri dihadapn pemimpin zhalim dan tidak adil, lalu dia mengajak
dan mencegahnya hingga ia dibunuh.” (Al-Hakim dan At-Thabrani)
Ada yang berminat?
Catatan prestasi emas al Fatih
Keseriusan al Fatih dalam mewujudkan cita-cita untuk menaklukkan
konstantinopel juga diikuti dengan berbagai catatan prestasi emasnya,
diantaranya :
1. Semenjak aqil baligh hingga meninggal dunia al Fatih tidak pernah meninggalkan sholat rowatib dan sholat tahajjud;
2. Menjadi gubernur ibu kota daulah khilafah pada usia 21 tahun;
3. Menguasai 7 bahasa pada usia 23 tahun;
4. Membentuk Pasukan Inkisaria, sekitar 40.000 pasukan elit dengan
program pelatihan terpadu sejak kecil dilatih fisik, akademis, strategi
perang, ilmu ushul fiqh, dan semua disiplin ilmu lain. Setengah pasukan
al-Fatih selalu melaksanakan tahajjud pada malam hari
5. Pada tahun
1452 M, al Fatih membangun benteng Rumeli Hisari dengan tinggi 82 meter,
dengan 5000 pekerja selesai dalam waktu 4 bulan
6. Membuat The Great Turkish Bombard (first Supergun)
7. Bersama pasukannya mampu memindahkan 70 kapal perang dari Selat
Bosphorus menuju Selat Tanduk melalui Pegunungan Galata dalam waktu 1
malam dengan menggunakan tekhnologi yang ada pada waktu itu.
8.
Tepat pada hari Selasa tanggal 20 Jumadil Ula 857 H bertepatan tanggal
29 Mei 1453 M adalah “tanggal keramat” bagi bangsa Eropa karena pada
tahun inilah al Fatih mendapat pertolongan dari Allah, berhasil
mewujudkan bisyaroh nubuwah untuk menaklukan Konstantinopel setelah
melewati 54 hari pertempuran dan 825 tahun penantian.
Khutbah meraih kemenangan
Sebelum menaklukkan Konstantinopel, ada khutbah yang disampaikan al Fatih untuk selurh pasukannya :
“Jika penaklukan kota Konstantinopel sukses, maka sabda Rasulullah SAW
telah menjadi kenyataan dan salah satu dari mukjizatnya telah terbukti,
maka kita akan mendapatkan bagian dari apa yang telah menjadi janji dari
hadits ini, yang berupa kemuliaan dan penghargaan. Oleh karena itu,
sampaikanlah pada para pasukan satu persatu, bahwa kemenangan besar yang
akan kita capai ini, akan menambah ketinggian dan kemuliaan Islam.
Untuk itu, wajib bagi setiap pasukan, menjadikan syariat selalu didepan
matanya dan jangan sampai ada diantara mereka yang melanggar syariat
yang mulia ini. Hendaknya mereka tidak mengusik tempat-tempat
peribadatan dan gereja-gereja. Hendaknya mereka jangan mengganggu para
pendeta dan orang-orang lemah tak berdaya yang tidak ikut terjun dalam
pertempuran”
Dari khutbah diatas telah jelas bahwa al Fatih sadar
bahwa kelak jika Ia berhasil menaklukkan Konstantinopel, hal itu
semata-mata hanya atas pertolongan dan izin dari Allah SWT, bukan karena
kemampuan strategi perang, kekuatan pasukan atau senjatanya. Maka al
Fatih berpesan: “Untuk itu, wajib bagi setiap pasukan, menjadikan
syariat selalu didepan matanya dan jangan sampai ada diantara mereka
yang melanggar syariat yang mulia ini.”
Wasiat dari al Fatih
Menjalani hari-hari terakhirnya setelah diracun, Muhammad al-fatih
merasaan kematian mungkin akan segera datang. Ia telah lakukan apa yang
ia bisa rasa bisa. Ia telah jalani apa yang ia yakini mesti. Ia telah
berikan apa yang ia anggap punya. Ia tunaikan apa yang ia tahu itu
menjadi tanggungjawabnya. Maka bila takdir telah membuatnya berkuasa di
usia muda dan harus membuatnya mati dalam usia yang belum terlalu tua,
hari itu ia merasa layak bicara. Bila ia harus mencari alasan, mungkin
hanya satu : ia telah bekerja.
Tiga puluh satu tahun setelah
dilaluinya dalam pegabdian, kerja, karya, yang luar biasa. Bila kemudian
di hari itu ia hendak bicara, itu sudah semestinya. Ia hendak bicara
atas apa yang telah dilakukannya, sebagai sebuah wasiat untuk anaknya
yang akan meneruskan kepemimpinannya. Maka kepada anaknya ia sampaikan
wasiat:
“Aku sudah diambang kematian. Tapi aku berharap aku tidak
kawatir, karena aku meninggalkan seseorang sepertimu. Jadilah seorang
pemimpin yang adil, shalih dan penyayang. Rentangkan pengayomamu untuk
rakyatmu, tanpa kecuali, bekerjalah untuk menyebarkan islam. Karena
sesungguhnya itu merupakan kewajiban para penguasa di muka bumi.
Dahuluklan urusan agama atas apapun urusan lainnya. Dan janganlah kamu
jemu dan bosan untuk terus menjalaninya. Janganlah engkau angkat jadi
pegawaimu mereka yang tidak peduli dengan agama, yang tidak menjauhi
dosa besar, dan yang tenggelam dalam dosa. Jauhilah olehmu bid’ah yang
merusak. Jagalah setap jengkal tanah islam dengan jihad. Lindungi harta
di baitul maal jangan sampai binasa. Janganlah sekali-kali tanganmu
mengambil harta rakyatmu kecuali dengan cara yang benar sesuai ketentuan
islam. Pastikan mereka yang lemah mendapatkan jaminan kekuatan darimu.
Berikanlah penghormatanmu untuk siapa yang memang berhak.”
“Ketahuilah, sesungguhnya para ulama adalah poros kekuatan di tengah
tubuh negara, maka muliakanlah mereka. Semangati mereka. Bila ada dari
mereka yang tinggal di negeri lain, hadirkanlah dan hormatilah mereka.
Cukupilah keperluan mereka.”
“Berhati-hatilah, waspadalah, jangan
sampai engkau tertipu oleh harta maupun tentara. Jangan sampai engkau
jauhkan ahli syari’at dari pintumu. Jangan sampai engkau cenderung
kepada pekerjaan yang bertentangan dengan ajaran islam. Karena
sesungguhnya agama itulah tujuan kta, hidayah itulah jalan kita. Dan
oleh sebab itu kita dimenangkan.”
“Ambilah dariku pelajaran ini. Aku
hadir ke negeri ini bagaikan seekor semut kecil. Lalu allah memberi
nikmat yang besar ini. Maka tetaplah di jalan yang telah aku lalui.
Bekerjalah untuk memuliakan agama islam ini, menghormati umatnya.
Janganlah engkau hamburkan uang negara, berfoya-foya, dan menggunakannya
melampaui batas yang semestinya. Sungguh itu semua adalah sebab-sebab
terbesar datangnya kehancuran.”
Itulah wasiat al-Fatih. Ia telah
mencatatkan tinta emas dalam sejarah dan mengukir prestasi yang insya
Allah layak dibanggakan dihadapan Allah SWT dengan membuktikan pada
dunia melalui usaha yang nyata. Kini tinggal kita wahai Saudaraku, yang
akan merealisasikan hadits Rasulullah SAW “….tsumma takuunu khilafatan
‘ala minhajin nubuwwah” dengan fikrah Islam dan thoriqah Rasulullah
sebagai senjata kita, akan segera kita taklukkan atas izin Allah,
ideologi Kapitalis yang saat ini sebagai benteng kuat di benak seluruh
penguasa kaum muslim, dan kita dirikan diatas puing-puingnya Negara
KHILAFAH ISLAMIYAH!!! ALLAHU AKBAR!!!
Wallahu a’laam bishowab.
==
hasil copas
WARA'NYA ABU BAKAR ASH SHIDDIQ RADHIYALLAHU 'ANHU
WARA'NYA ABU BAKAR ASH SHIDDIQ RADHIYALLAHU 'ANHU
Sesungguhnya bukti ketakutan seorang mukmin yang bertaqwa itu adalah
dia akan menghindari hal-hal yang akan membuat hijab antara dia dan
Rabbnya. Dia tidak berani untuk bermaksiat kepada Allah dan lalai
terhadap hak-haknya Allah Ta'ala. Dia akan berusaha semampunya untuk
lari dari kemurkaan Allah menuju kasih sayangnya Allah Ta'ala.
Dan
termasuk buah takutnya seorang mukmin itu adalah Allah jadikan dia
memiliki sifat wara', yaitu menghindari diri dari dosa, dari yang haram
maupun yang syubhat.
Sungguh
betapa kita mencintai seorang sahabat Nabi yang paling utama yaitu Abu
bakar ash Shiddiq radhiyallahu 'anhu karena begitu banyaknya
pengorbanannya dalam memperjuangkan dien ini sehingga tidak salah
perkataan Al Hafizh Ibnu Katsir tentangnya :
“(Orang yang)
paling mulia di antara para sahabat bahkan paling mulia di antara
seluruh makhluk setelah para Nabi adalah Abu Bakar, kemudian setelahnya
Umar bin Khaththab, kemudian Utsman bin Affan, dan kemudian Ali bin Abi
Thalib.” (Al-Ba’itsul Hatsis, 183)
Salah satu kisah yang menggambarkan bagaimana sikap wara'nya Abu Bakar ash Shiddiq semoga bisa menjadi teladan bagi kita semua.
Zaid bin Arqam radiyallahu ‘anhu bercerita,
“Salah satu budak Abu Bakar radiyallahu ‘anhu pernah melakukan ghulul
dan darinya ia membawa makanan kepada Abu Bakar. Setelah Abu Bakar
selesai makan, budak tersebut mengatakan, ‘Wahai Tuanku, biasanya setiap
malam engkau bertanya kepadaku tentang setiap hasil usahaku, tetapi
mengapa malam ini engkau tidak bertanya terlebih dahulu?’ Abu Bakar
menjawab, ‘Yang menyebabkan hal itu tidak lain adalah karena rasa lapar.
Memangnya dari mana harta tersebut?’ Maka budak tersebut menceritakan
usahanya. Serta-merta Abu Bakar menjawab, ‘Hampir saja engkau
membunuhku.’ Lalu Abu Bakar memasukkan tangannya ke mulut dan berusaha
memuntahkan setiap suapan makanan yang tertelan, tetapi usahanya tidak
berhasil, kemudian dikatakan, ‘Sesungguhnya makanan itu tidak dapat
keluar kecuali dengan air.’ Maka beliau meminta segelas air lalu
meminumnya dan memuntahkannya hingga keluar semua makanan yang tadi
beliau makan. Lalu dikatakan kepada beliau, ‘Engkau lakukan ini hanya
karena ingin memuntahkan makanan yang telah engkau makan?’ Beliau
menjawab, ‘Seandainya ia tidak keluar kecuali bila harus bersama jiwaku
maka akan aku lakukan.”
(Lihat Shafwatush Shafwah 1/252, Hilyatul Auliya 1/31)
Semoga Allah meridhai Abu Bakar ash Shiddiq dan para sahabat radhiyallahu 'anhuma..
Semoga Ramadhan ini menjadikan sifat wara' kepada kita semua..
Allahumma Amiin...
WARA'NYA ABU BAKAR ASH SHIDDIQ RADHIYALLAHU 'ANHU
Sesungguhnya bukti ketakutan seorang mukmin yang bertaqwa itu adalah dia akan menghindari hal-hal yang akan membuat hijab antara dia dan Rabbnya. Dia tidak berani untuk bermaksiat kepada Allah dan lalai terhadap hak-haknya Allah Ta'ala. Dia akan berusaha semampunya untuk lari dari kemurkaan Allah menuju kasih sayangnya Allah Ta'ala.
Dan termasuk buah takutnya seorang mukmin itu adalah Allah jadikan dia memiliki sifat wara', yaitu menghindari diri dari dosa, dari yang haram maupun yang syubhat.
Sungguh betapa kita mencintai seorang sahabat Nabi yang paling utama yaitu Abu bakar ash Shiddiq radhiyallahu 'anhu karena begitu banyaknya pengorbanannya dalam memperjuangkan dien ini sehingga tidak salah perkataan Al Hafizh Ibnu Katsir tentangnya :
“(Orang yang) paling mulia di antara para sahabat bahkan paling mulia di antara seluruh makhluk setelah para Nabi adalah Abu Bakar, kemudian setelahnya Umar bin Khaththab, kemudian Utsman bin Affan, dan kemudian Ali bin Abi Thalib.” (Al-Ba’itsul Hatsis, 183)
Salah satu kisah yang menggambarkan bagaimana sikap wara'nya Abu Bakar ash Shiddiq semoga bisa menjadi teladan bagi kita semua.
Zaid bin Arqam radiyallahu ‘anhu bercerita,
“Salah satu budak Abu Bakar radiyallahu ‘anhu pernah melakukan ghulul dan darinya ia membawa makanan kepada Abu Bakar. Setelah Abu Bakar selesai makan, budak tersebut mengatakan, ‘Wahai Tuanku, biasanya setiap malam engkau bertanya kepadaku tentang setiap hasil usahaku, tetapi mengapa malam ini engkau tidak bertanya terlebih dahulu?’ Abu Bakar menjawab, ‘Yang menyebabkan hal itu tidak lain adalah karena rasa lapar. Memangnya dari mana harta tersebut?’ Maka budak tersebut menceritakan usahanya. Serta-merta Abu Bakar menjawab, ‘Hampir saja engkau membunuhku.’ Lalu Abu Bakar memasukkan tangannya ke mulut dan berusaha memuntahkan setiap suapan makanan yang tertelan, tetapi usahanya tidak berhasil, kemudian dikatakan, ‘Sesungguhnya makanan itu tidak dapat keluar kecuali dengan air.’ Maka beliau meminta segelas air lalu meminumnya dan memuntahkannya hingga keluar semua makanan yang tadi beliau makan. Lalu dikatakan kepada beliau, ‘Engkau lakukan ini hanya karena ingin memuntahkan makanan yang telah engkau makan?’ Beliau menjawab, ‘Seandainya ia tidak keluar kecuali bila harus bersama jiwaku maka akan aku lakukan.”
(Lihat Shafwatush Shafwah 1/252, Hilyatul Auliya 1/31)
Semoga Allah meridhai Abu Bakar ash Shiddiq dan para sahabat radhiyallahu 'anhuma..
Semoga Ramadhan ini menjadikan sifat wara' kepada kita semua..
Allahumma Amiin...
Sesungguhnya bukti ketakutan seorang mukmin yang bertaqwa itu adalah dia akan menghindari hal-hal yang akan membuat hijab antara dia dan Rabbnya. Dia tidak berani untuk bermaksiat kepada Allah dan lalai terhadap hak-haknya Allah Ta'ala. Dia akan berusaha semampunya untuk lari dari kemurkaan Allah menuju kasih sayangnya Allah Ta'ala.
Dan termasuk buah takutnya seorang mukmin itu adalah Allah jadikan dia memiliki sifat wara', yaitu menghindari diri dari dosa, dari yang haram maupun yang syubhat.
Sungguh betapa kita mencintai seorang sahabat Nabi yang paling utama yaitu Abu bakar ash Shiddiq radhiyallahu 'anhu karena begitu banyaknya pengorbanannya dalam memperjuangkan dien ini sehingga tidak salah perkataan Al Hafizh Ibnu Katsir tentangnya :
“(Orang yang) paling mulia di antara para sahabat bahkan paling mulia di antara seluruh makhluk setelah para Nabi adalah Abu Bakar, kemudian setelahnya Umar bin Khaththab, kemudian Utsman bin Affan, dan kemudian Ali bin Abi Thalib.” (Al-Ba’itsul Hatsis, 183)
Salah satu kisah yang menggambarkan bagaimana sikap wara'nya Abu Bakar ash Shiddiq semoga bisa menjadi teladan bagi kita semua.
Zaid bin Arqam radiyallahu ‘anhu bercerita,
“Salah satu budak Abu Bakar radiyallahu ‘anhu pernah melakukan ghulul dan darinya ia membawa makanan kepada Abu Bakar. Setelah Abu Bakar selesai makan, budak tersebut mengatakan, ‘Wahai Tuanku, biasanya setiap malam engkau bertanya kepadaku tentang setiap hasil usahaku, tetapi mengapa malam ini engkau tidak bertanya terlebih dahulu?’ Abu Bakar menjawab, ‘Yang menyebabkan hal itu tidak lain adalah karena rasa lapar. Memangnya dari mana harta tersebut?’ Maka budak tersebut menceritakan usahanya. Serta-merta Abu Bakar menjawab, ‘Hampir saja engkau membunuhku.’ Lalu Abu Bakar memasukkan tangannya ke mulut dan berusaha memuntahkan setiap suapan makanan yang tertelan, tetapi usahanya tidak berhasil, kemudian dikatakan, ‘Sesungguhnya makanan itu tidak dapat keluar kecuali dengan air.’ Maka beliau meminta segelas air lalu meminumnya dan memuntahkannya hingga keluar semua makanan yang tadi beliau makan. Lalu dikatakan kepada beliau, ‘Engkau lakukan ini hanya karena ingin memuntahkan makanan yang telah engkau makan?’ Beliau menjawab, ‘Seandainya ia tidak keluar kecuali bila harus bersama jiwaku maka akan aku lakukan.”
(Lihat Shafwatush Shafwah 1/252, Hilyatul Auliya 1/31)
Semoga Allah meridhai Abu Bakar ash Shiddiq dan para sahabat radhiyallahu 'anhuma..
Semoga Ramadhan ini menjadikan sifat wara' kepada kita semua..
Allahumma Amiin...
Selasa, 02 Juli 2013
Thaghut Menurut Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah
Thaghut Menurut Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah
Posted by Admin
GM, Halaqoh Online
3:05 PM
Arti thaghut sebenarnya masih kabur bagi kebanyakan orang. Sayangnya, istilah thoghut ini sudah lebih dahulu tersebar bersama isu terorisme sebelum masyarakat luas memahami apa itu thaghut. Media yang sering menampilkan ucapan para pelaku teror menggunakan kata thaghut untuk menyebut pihak penguasa yang mereka musuhi membuat kata inimenjadi idiom yang lekat dengan para pelaku teror, sehingga, bagi kalangan awam, siapa pun yang sering mengucap kata thaghut identik dengan kaum teroris. Padahal, kata dan makna thaghut ini telah lebih dahulu dipakai oleh Allah Ta’ala di dalam Al-Qur’an.Allah menggunakan istilah thaghut sebanyak delapan kali di dalam Al-Qur’an.Lantas apa sebenarnya pengertian thoghut yang terdapat dalam Al-Qur’an itu?
Ibnul Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan makna kata thaghut ini di dalam kitab beliau, I’lamul Muwaqqi’iin. Beliau menyatakan:
أَخْبَرَ سُبْحَانَهُ أَنَّ مَنْ تَحَاكَمَ أَوْ حَاكَمَ إلَى غَيْرِ مَا جَاءَ بِهِ الرَّسُولُ فَقَدْ حَكَّمَ الطَّاغُوتَ وَتَحَاكَمَ إلَيْهِ، وَالطَّاغُوتُ: كُلُّ مَا تَجَاوَزَ بِهِ الْعَبْدُ حَدَّهُ مِنْ مَعْبُودٍ أَوْ مَتْبُوعٍ أَوْ مُطَاعٍ؛ فَطَاغُوتُ كُلِّ قَوْمٍ مِنْ يَتَحَاكَمُونَ إلَيْهِ غَيْرَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ، أَوْ يَعْبُدُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ، أَوْ يَتْبَعُونَهُ عَلَى غَيْرِ بَصِيرَةٍ مِنْ اللَّهِ، أَوْ يُطِيعُونَهُ فِيمَا لَا يَعْلَمُونَ أَنَّهُ طَاعَةٌ لِلَّهِ؛
“Allah subhanahu wa ta’ala memberitahukan bahwa orang yang minta keputusan hukum atau berhakim kepada apa yang tidak dibawa oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam maka ia telah menjadikan thaghut sebagai hakim dan berhukum kepadanya. Dengan demikian, thaghut adalah segala hal yang diperlakukan oleh manusia secara melampaui batas, baik berupa sesembahan, pihak yang selalu diikuti atau ditaati. Dengan demikian, thaghut (yang disembah oleh) suatu kaum adalah siapa saja yang mereka jadikan sebagai pemberi keputusan hukum selain Allah dan RasulNya, atau yang mereka sembah selain Allah, atau yang selalu mereka ikuti tanpa keterangan dari Allah, atau yang selalu mereka taati dalam perkara-perkara yang tidak mereka ketahui apakah itu tergolong ketataan kepada Allah.”
Jadi, thaghut sebagai sesuatu yang disembah selain Allah, ini sangat jelas.Adapun thaghut sebagai sesuatu yang diikuti, maka maksudnya adalah diikuti dengan anggapan bahwa ia adalah sumber kebenaran yang layak atau wajib untuk diikuti. Berbeda halnya dengan umat Islam yang bertaqlid atau mengikuti pendapat-pendapat para mujtahid. Mereka mengikuti para mujtahid itu bukan dengan anggapan bahwa mereka adalah sumber kebenaran, melainkan para imam mujtahid itu diikuti dengan anggapan bahwa mereka mengamalkan hukum Allah. Adapun thaghut sebagai pihak yang ditaati maksudnya bukan seperti seorang imam atau pemimpin yang diwajibkan oleh Allah untuk ditaati, melainkan thaghut itu adalah pihak yang ditaati segala perintahnya secara buta, ketaatan kepadanya tidak ada kaitannya dengan ketaatan kepada Allah, karena dia dianggap sebagai pemegang kedaulatan yang berhak memerintah dan melarang secara otonom.
Apa yang dikatakan oleh Imam Ibnul Qayyim ini tampak relevan dengan berbagai ayat yang menyebut istilah thaghut.
Al-Baqarah ayat 256
{فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا} [البقرة: 256]
Maka barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus
Al-Baqarah ayat 257
{وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ} [البقرة: 257]
Adapun orang-orang yang kafir, pelindung-pelindung mereka adalah thaghut, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran).
An-Nisa’ ayat 51
{أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ يُؤْمِنُونَ بِالْجِبْتِ وَالطَّاغُوتِ وَيَقُولُونَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا هَؤُلَاءِ أَهْدَى مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا سَبِيلًا} [النساء: 51]
Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang Kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman.
An-Nisa’ ayat 60
{أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا} [النساء: 60]
Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? Mereka hendak berhakim kepada thaghut[, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.
An-Nisa’ ayat 76
{الَّذِينَ آمَنُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ} [النساء: 76]
Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.
Al-Maidah ayat 60
{قُلْ هَلْ أُنَبِّئُكُمْ بِشَرٍّ مِنْ ذَلِكَ مَثُوبَةً عِنْدَ اللَّهِ مَنْ لَعَنَهُ اللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ وَجَعَلَ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ وَعَبَدَ الطَّاغُوتَ أُولَئِكَ شَرٌّ مَكَانًا وَأَضَلُّ عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ} [المائدة: 60]
Katakanlah: “Apakah kalian mau aku beri tahu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu disisi Allah? Yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut?.” Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus.
An-Nahl ayat 36
{وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ} [النحل: 36]
Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut “,
Az-Zumar ayat 17
{وَالَّذِينَ اجْتَنَبُوا الطَّاغُوتَ أَنْ يَعْبُدُوهَا وَأَنَابُوا إِلَى اللَّهِ لَهُمُ الْبُشْرَى فَبَشِّرْ عِبَادِ } [الزمر: 17]
Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembah- nya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba- hamba-Ku, [ust titok/www.globalmuslim.web.id]
sumber: http://www.globalmuslim.web.id/2013/07/thaghut-menurut-ibnul-qayyim-al.html
Posted by Admin
GM, Halaqoh Online
3:05 PM
Arti thaghut sebenarnya masih kabur bagi kebanyakan orang. Sayangnya, istilah thoghut ini sudah lebih dahulu tersebar bersama isu terorisme sebelum masyarakat luas memahami apa itu thaghut. Media yang sering menampilkan ucapan para pelaku teror menggunakan kata thaghut untuk menyebut pihak penguasa yang mereka musuhi membuat kata inimenjadi idiom yang lekat dengan para pelaku teror, sehingga, bagi kalangan awam, siapa pun yang sering mengucap kata thaghut identik dengan kaum teroris. Padahal, kata dan makna thaghut ini telah lebih dahulu dipakai oleh Allah Ta’ala di dalam Al-Qur’an.Allah menggunakan istilah thaghut sebanyak delapan kali di dalam Al-Qur’an.Lantas apa sebenarnya pengertian thoghut yang terdapat dalam Al-Qur’an itu?
Ibnul Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan makna kata thaghut ini di dalam kitab beliau, I’lamul Muwaqqi’iin. Beliau menyatakan:
أَخْبَرَ سُبْحَانَهُ أَنَّ مَنْ تَحَاكَمَ أَوْ حَاكَمَ إلَى غَيْرِ مَا جَاءَ بِهِ الرَّسُولُ فَقَدْ حَكَّمَ الطَّاغُوتَ وَتَحَاكَمَ إلَيْهِ، وَالطَّاغُوتُ: كُلُّ مَا تَجَاوَزَ بِهِ الْعَبْدُ حَدَّهُ مِنْ مَعْبُودٍ أَوْ مَتْبُوعٍ أَوْ مُطَاعٍ؛ فَطَاغُوتُ كُلِّ قَوْمٍ مِنْ يَتَحَاكَمُونَ إلَيْهِ غَيْرَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ، أَوْ يَعْبُدُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ، أَوْ يَتْبَعُونَهُ عَلَى غَيْرِ بَصِيرَةٍ مِنْ اللَّهِ، أَوْ يُطِيعُونَهُ فِيمَا لَا يَعْلَمُونَ أَنَّهُ طَاعَةٌ لِلَّهِ؛
“Allah subhanahu wa ta’ala memberitahukan bahwa orang yang minta keputusan hukum atau berhakim kepada apa yang tidak dibawa oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam maka ia telah menjadikan thaghut sebagai hakim dan berhukum kepadanya. Dengan demikian, thaghut adalah segala hal yang diperlakukan oleh manusia secara melampaui batas, baik berupa sesembahan, pihak yang selalu diikuti atau ditaati. Dengan demikian, thaghut (yang disembah oleh) suatu kaum adalah siapa saja yang mereka jadikan sebagai pemberi keputusan hukum selain Allah dan RasulNya, atau yang mereka sembah selain Allah, atau yang selalu mereka ikuti tanpa keterangan dari Allah, atau yang selalu mereka taati dalam perkara-perkara yang tidak mereka ketahui apakah itu tergolong ketataan kepada Allah.”
Jadi, thaghut sebagai sesuatu yang disembah selain Allah, ini sangat jelas.Adapun thaghut sebagai sesuatu yang diikuti, maka maksudnya adalah diikuti dengan anggapan bahwa ia adalah sumber kebenaran yang layak atau wajib untuk diikuti. Berbeda halnya dengan umat Islam yang bertaqlid atau mengikuti pendapat-pendapat para mujtahid. Mereka mengikuti para mujtahid itu bukan dengan anggapan bahwa mereka adalah sumber kebenaran, melainkan para imam mujtahid itu diikuti dengan anggapan bahwa mereka mengamalkan hukum Allah. Adapun thaghut sebagai pihak yang ditaati maksudnya bukan seperti seorang imam atau pemimpin yang diwajibkan oleh Allah untuk ditaati, melainkan thaghut itu adalah pihak yang ditaati segala perintahnya secara buta, ketaatan kepadanya tidak ada kaitannya dengan ketaatan kepada Allah, karena dia dianggap sebagai pemegang kedaulatan yang berhak memerintah dan melarang secara otonom.
Apa yang dikatakan oleh Imam Ibnul Qayyim ini tampak relevan dengan berbagai ayat yang menyebut istilah thaghut.
Al-Baqarah ayat 256
{فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا} [البقرة: 256]
Maka barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus
Al-Baqarah ayat 257
{وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ} [البقرة: 257]
Adapun orang-orang yang kafir, pelindung-pelindung mereka adalah thaghut, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran).
An-Nisa’ ayat 51
{أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ يُؤْمِنُونَ بِالْجِبْتِ وَالطَّاغُوتِ وَيَقُولُونَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا هَؤُلَاءِ أَهْدَى مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا سَبِيلًا} [النساء: 51]
Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang Kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman.
An-Nisa’ ayat 60
{أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا} [النساء: 60]
Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? Mereka hendak berhakim kepada thaghut[, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.
An-Nisa’ ayat 76
{الَّذِينَ آمَنُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ} [النساء: 76]
Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.
Al-Maidah ayat 60
{قُلْ هَلْ أُنَبِّئُكُمْ بِشَرٍّ مِنْ ذَلِكَ مَثُوبَةً عِنْدَ اللَّهِ مَنْ لَعَنَهُ اللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ وَجَعَلَ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ وَعَبَدَ الطَّاغُوتَ أُولَئِكَ شَرٌّ مَكَانًا وَأَضَلُّ عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ} [المائدة: 60]
Katakanlah: “Apakah kalian mau aku beri tahu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu disisi Allah? Yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut?.” Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus.
An-Nahl ayat 36
{وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ} [النحل: 36]
Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut “,
Az-Zumar ayat 17
{وَالَّذِينَ اجْتَنَبُوا الطَّاغُوتَ أَنْ يَعْبُدُوهَا وَأَنَابُوا إِلَى اللَّهِ لَهُمُ الْبُشْرَى فَبَشِّرْ عِبَادِ } [الزمر: 17]
Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembah- nya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba- hamba-Ku, [ust titok/www.globalmuslim.web.id]
sumber: http://www.globalmuslim.web.id/2013/07/thaghut-menurut-ibnul-qayyim-al.html
Langganan:
Postingan (Atom)