IRONI PELAYANAN KESEHATAN

IRONI PELAYANAN KESEHATAN
LOMBA MENULIS BLOG FPKR

Minggu, 01 Februari 2015

ANTARA AKIDAH DAN TOLERANSI BERAGAMA







Desember, bulan ujian keimanan bagi kaum muslim. Betapa tidak, penghujung bulan di akhir tahun ini tepatnya tanggal 25 Desember kaum Nasrani merayakan hari Natal. Tak sedikit ucapan selamat Natal sering kita dengarkan dari  lisan saudara muslim. Dengan harapan tercipta kerukunan antar umat beragama. Toh, masih juga memeluk Islam. Hanya mengucapkan selamat saja apa salahnya. Saat kaum muslim lebaran pun mereka mengucapkan selamat kepada kita. Jadi impas.
Namun benarkah yang demikian? Alih-alih toleransi antar umat beragama, namun yang ada seakan mengakui kebenaran akidah umat Nasrani. Selain itu berakhirnya bulan Desember belumlah selesai ujian keimanan itu. Datanglah bulan Januari tepatnya di awal tahun yakni Tahun Baru kaum muslim disibukkan dengan habits (kebiasaan) yang turun temurun orang terdahulu yang mengikut gaya hidup Barat. Tiupan terompet, menyalanya kembang api seakan menjadi kebutuhan pokok penyambutan tahun baru Masehi. Aneka bingkisan suasana Natal dan tahun baru mewarnai toko accesories. Tak cukup benda yang dijual, aneka hiasan pun tersuasanakan oleh perayaan Natal dan tahun baru. Karyawan muslim pun mendapat imbasnya. Terwajibkan olehnya sebagai karyawan untuk mengenakan topi Sinterklas dengan harapan menjadi tanda adanya toleransi terhadap kaum kaum Nasrani.
Selaku orang muslim tentunya hati kecil kita bertanya, sudah benarkah dengan apa-apa yang kita lakukan dalam penyambutan perayaan agama lain (Natal) dan tahun baru? Adakah kita dapati agama kita memerintahkan atau bahkan melarangnya? Sementara hari penghisaban itu sebuah kepastian. Hari dimana seluruh amalan kita diperhitungkan. Natal, yang oleh kaum Nasrani diyakini sebagai hari lahirnya Yesus Kristus yang dianggap sebagai Tuhan. Menurut seorang muallaf Ustadzah Irene Handono, secara otentik peringatan Natal 25 Desember tidak memiliki bukti yang nyata dalam Bibel.
Saat kaum muslim berakidah Islam mengakui bahwa hanyalah Allah saja Tuhan sekalian alam, akankah mengakui Yesus sebagai tuhan? Bukankah Allah berfirman dalam Surat Al Ikhlas “Katakanlah Dialah Allah Yang Maha Esa.” Ide pluralisme (menganggap semua agama benar) memaksakan kebanyakan kaum muslim menggadaikan akidahnya. Di satu sisi mengakui keesaan Allah namun di sisi lain mengakui akidah kaum non muslim. Sesuatu yang sangat susah di nalar oleh akal.
 Indonesia negeri yang terdiri dari beberapa suku, agama, dan keyakinan. Agar berjalan rukun dan damai maka antar umat beragama lain harus saling menghormati diantaranya mengucapkan selamat kepada umat yang berlainan akidah. Kaum non muslim saja saat kita berhari raya mereka mengucapkan selamat kepada kita, masak kita diam saja saat mereka merayakan perayaan agamanya?” Kalimat seperti ini sering terlontar dari lisan saudara/i muslim lainnya. Menghormati keyakinan agama lain memang sebuah keharusan, namun berbatas. Bukankah Allah juga berfirman dalam Surat Al Kafirun, “Lakum dinukum waliyaddin” Untukmulah agamamu untukku lah agamaku. Mengucapkan selamat Natal sama halnya membenarkan keyakinan mereka bahwa Yesus adalah Tuhan. Tampaklah sangat jelas bahwa ini bertentangan dengan akidah kaum muslim. Islam memberikan toleransi kepada umat lain untuk menjalankan ibadah agamanya. Tidak pula mewajibkan kaum muslim untuk memaksakan umat lain untuk memeluk Islam. Beragama adalah pilihan, tidak ada paksaan. Namun menjalankan apa yang diperintahkan dalam agama (Islam) adalah kewajiban.
Mengenakan apa-apa yang menjadi ciri khas seperti topi Sinterklas sebagaimana para karyawan swalayan, toko, maupun rumah makan sama halnya dengan menyerupai kaum mereka. Rasulullah pernah berpesan, “Barang siapa menyerupai suatu kaum maka tergolong kaum tersebut”. Saat kaum muslim bertingkah laku seperti halnya kaum Nasrani maka oleh Rasul terkategori kaum tersebut. Akankah kita merelakan diri kita, di saat akhirat menyapa, Rasul kita tiada mengakui kita sebagai umatnya? Toleransi tak harus mencampuradukkan agama kita dengan hadharah (peradaban) agama lain.  Cukuplah bagi kita agama kita. Bagi mereka agama mereka. Tak lebih dari itu.
Tahun Baru Masehi, hari yang dinantikan oleh kebanyakan manusia. Terutama mereka yang memperoleh keuntungan. Yakni para kapital. Aneka macam kembang api, terompet dan jalan-jalan ke tempat rekreasi menjadi habits (kebiasaan) kebanyakan manusia. Tak sedikit pula kaum muslim mengikuti arus ini. Hingar-bingar perayaan malam tahun baru dengan petasan, aksi konvoi keliling kota dengan kendaraan bahkan di malam menjelang tahun baru, gaul bebas kian marak, penjualan kondom laris manis. Banyak para gadis merelakan keperawanannya. Naudzubillah.
Gelar konser pun tak mau ketinggalan dengan mengundang artis papan atas yang lagi naik daun. Seakan tahun baru adalah hari berfoya-foya tanpa hisab dari Tuhan sekalian alam (Allah SWT). Alun-alun dan daerah seputaran kota ramai oleh khalayak umum. Mereka menikmati detik-detik pergantiaan tahun di jam dan menit 23.59. Seakan tidak afdhal jika tak membuka mata di jam tersebut. Biarlah begadang asal dapat menikmati malam pergantian tahun. Campur baur laki-laki dan perempuan bukan hal yang asing lagi. Toh, setahun hanya sekali. Rugi jika tak mengikuti.
Jika berbicara soal tahun baru, maka tak elok kiranya melupakan sejarah tahun baru. Sehingga kita mampu bersikap yang tepat dalam penyambutannya. Orang Romawi merayakan tahun baru untuk memperingati dewa mereka yakni Dewa Janus. Dalam keyakinan mereka Dewa Janus memiliki dua wajah. Satu di depan dan satunya lagi di belakang yang mengandung folosofi masa depan dan masa lalu  seperti halnya pergantian tahun.
Mengenai kebiasaan meniup terompet pada malam tahun baru adalah berasal dari selain Islam yakni kaum Yahudi. Dari sini nampaklah jelas kebiasaan penyambutan tahun baru bukanlah berasal dari Islam namun berasal dari selain Islam. Sebagai seorang muslim yang mengharapkan keridhaan Allah dan merindukan perjumpaan dengan Allah serta surga-Nya, haruskah kita mengikuti kebudayaan kaum non muslim? Tentu akal sehat kita akan menjawab “tidak, sekali-kali tidak”. Semoga Allah membimbing akal dan hati kita agar senantiasa menaati aturan-Nya. Aamiin. Allahu A’lam. (dimuat tabloid cetak Blok Bojonegoro Januari 2015)
(Liya Yuliana/Anna Mujahidah Mumtazah) 


Selasa, 05 Agustus 2014

STOP MAKSIAT TANPA NANTI DAN TAAT TANPA TAPI

Ramadan bulan mulia, penuh ampunan, bulan ujian kesabaran. Betapa tidak, kaum muslim menahan haus, lapar, hawa, nafsu dari fajar hingga terbenamnya matahari. Siangnya berpuasa, malamnya salat tarawih, tadarus dan ibadah lainnya. Hanya orang beriman yang Allah wajibkan untuk berpuasa sebagaimana firman Allah SWT dalam  surat Al Baqarah 183, “Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. Dalam ayat ini buah dari puasa adalah takwa kita kepada Allah SWT.
Di bulan ini kita jumpai manusia terlihat lebih taat dibandingkan hari-hari di bulan lainnya. Jika di bulan selain ramadan banyak kaum wanita membuka aurat, kini mendadak taubat menutup aurat (meski terkadang lekuk tubuh masih ditampakkan). Begitu juga dengan  kebiasaan ibu-ibu yang ngerumpi (ghibah), di bulan ramadan tak lagi ada ghibah. Para artis dan muslimah lainnya yang biasanya gemar umbar aurat kini mendadak tutup aurat, meski kebiasaan yang lalu taubat cabe (taubat sementara). Ramadan taat, selesai ramadan kembali maksiat. Naudzubillah.
Mengutip sebuah buku habits karya ustad Felix Siaw (seorang inspirator yang juga muallaf) bahwasanya untuk menjadikan sesuatu itu bisa dilakukan butuh kebiasaan. Jika di bulan ramadan kaum muslim terbiasa taat maka seharusnya di bulan lainnya pun dapat menjadi hamba Allah yang taat. Awalnya menutup aurat itu berat namun setelah menjadi kebiasaan beratnya tidak lagi dalam melaksanakan, namun berat untuk melanggarnya. Saat terbiasa menutup aurat justru saat aurat tanpa sadar terbuka, maka serasa hati berat, resah dan gudah gulana. Untuk terbiasa taat, maka moment ramadan adalah saat yang tepat biasakan diri taat dan stop maksiat.
Namanya juga taat, ujian pun semakin hebat. Bukankah Allah berfirman dalam Al Quran  “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-Ankabut 2-3)
Banyak kita jumpai kaum muslim yang mengatakan saya ingin taubat dan berhenti maksiat tapi kok belum siap. Saya ingin menjadi muslim yang taat tapi nanti setelah mendapat hidayah dan segudang alasan lainnya. Jika bermaksiat saja kita tanpa tapi dan tanpa nanti namun mengapa giliran untuk taat selalu ada kata nanti dan tapi?
Nah, ramadan ini jadikan moment perubahan besar pada diri untuk taat kepada Allah. Pun jika orang lain mengejek, woles saja, anggap saja angin lalu. Sebab surga didapat bukan karena jika kita menurutinya, namun menuruti aturan Allah. Jika pun kita di puji harus waspada, ingat kita melakukan semua bukan untuk pujian manusia, namun karena berharap ridha Allah itu ada untuk kita. Saat kita berazam untuk taat tanpa tapi dan taat tanpa nanti pasti selalu dan selalu ada jalan. Bukankah Allah berfirman: “Hai orangorang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” (Q.S Muhammad :7).  Yakin saja bahwa pertolongan Allah itu sangatlah dekat, kapanpun dan dimanapun.
Tidak ada ketaatan tanpa ujian. Agar ketaatan itu selalu menancap pada diri kita langkah selanjutnya adalah memupuk akal dan hati dengan ilmu. Ilmu tentang Islam, di sana iman kita akan senantiasa dikuatkan. Tidak lupa berkumpul dengan para ulama, orang shalih. Sehingga saat kita berusaha melenceng dari rel tentu mereka mengingatkan kita untuk menuju jalan kebenaran Islam. (AMM)
Di muat di radar Bojonegoro 20 Juli 2014